Rabu, 05 Juni 2013

Tentang Bubur, Part 1: Bubur Ayam

Jadi ceritanya pagi tadi saya beli sarapan bubur ayam di kantin kantor, seperti biasa. Tapi hokinya, saya adalah pembeli terakhir, yang mendapatkan seporsi terakhir bubur. Kenapa hoki? Karena porsi terakhir itu berarti sekalian penghabisan, jadi saya dapat porsi jumbo. Asiknya lagi, saya dapat tambahan ati ampela gratis di samping dua tusuk sate ati ampela yang memang saya pesan! Jadi seakan-akan saya beli bubur jumbo dengan 3 tusuk sate ati ampela, tapi bayar hanya seharga bubur normal dengan 2 tusuk sate ati ampela. Ekonomis! Dan pastinya kenyang. 
Bubur jumbo ekstra ati ampela sebelum diaduk
Sesudah diaduk. Kayak mau tumpah saking penuhnya.
Bubur ayam di kantin kantor saya ini cukup enak. Penjualnya namanya Salim. Setiap pagi, sepertinya mulai dari jam 7 sampai buburnya habis (biasanya habis jam setengah 9 atau kalau super laris jam 8 juga sudah wassalam), Pak Salim ini punya spot sendiri di counter ujung kantin. Setiap ada yang mau beli bubur pasti ditanya dulu:
makan sini apa bungkus? Kalau 'makan sini', maka doi akan langsung ambil menyiapkan bubur di mangkok beling, tapi kalau 'bungkus', bubur disiapkan di wadah styrofoam yang dilapis plastik, lengkap dengan sendok plastiknya juga. 

Komposisi semangkuk bubur ayam Salim ini terbilang cukup komplit dan memenuhi standar wajib bubur ayam(?): bubur, ayam suwir, cakwe, kerupuk, emping, kacang, kuah kuning, kecap manis secukupnya, dan sambal. Tapi kebanyakan pembeli punya preference nya sendiri-sendiri, bisa di-custom, misalnya 'nggak pake kacang sama sambal' atau 'kuahnya banyakin' dan sebagainya. Sebagai pelengkap bubur ayam, ditawarkan juga beberapa jenis sate: ati, ampela, jantung, dan telur muda. Harga semangkuk bubur ayam Salim porsi normal hanya 6000 rupiah, porsi jumbo 8000 rupiah. Sementara setusuk sate segala varian harganya seribu rupiah saja.

Setiap pagi antrian pembeli bubur ayam Salim di kantin udah mirip antri sembako. Pak Salim ini single fighter dalam melayani pembeli, sama sekali tidak ada asisten. Jadi pembeli harus ekstra sabar karena Pak Salim tidak hanya sibuk meracik bubur ayam plus uba rampe nya, tetapi juga harus mengantar pesanan ke meja-meja. Tapi tetap, yang namanya pelanggan loyal ya pelanggan loyal. Tetap sabar menanti selama stok bubur masih ada. 

Selama saya di Jakarta, bubur ayam Salim di kantin kantor ini bukan satu-satunya yang pernah saya coba. Ada juga bubur ayam yang suka mangkal di tikungan Widya Chandra. Lumayan enak juga, tapi masih enak bubur ayam Salim. Yang lebih enak lagi itu bubur ayam di belakang kantor jalan Sisingamangaraja. Sampai sekarang itu bubur ayam paling enak yang pernah saya cicipi di seantero Jakarta. Entah apa yang bikin enak, tapi nampaknya gara-gara ada sedikit campuran bumbu rahasia yang rada mirip bumbu sate yang dicampurkan di buburnya. Pokoknya yummy sekali!

Saya sebenarnya masih tidak habis pikir dan sulit menerima kenyataan kalau penjual bubur ayam di Jakarta selalu menambahkan kuah berwarna kuning ke buburnya. Sebagai penduduk Bandung lahir batin saya terbiasa dengan bubur ayam Bandung yang tidak berkuah, makanya janggal sekali rasanya makan bubur ayam berkuah. Tapi lama-lama saya terbiasa juga, dan yang penting buburnya diaduk rata dulu sebelum dimakan, biar lebih nikmat dan biar kuahnya tidak terlalu kentara.

Kalau bubur ayam terenak sedunia versi saya, bukan bubur di Sisingamangaraja ternyata:
Bubur ayam Antapani!!!!!!!
Bubur ayam di jalan Purwakarta, Antapani, Bandung, adalah bubur ayam terenak sedunia buat saya. Di tendanya tulisannya bubur ayam cabang Andir, Pak H. Lili dan Pak H. Udin. Jangan ketuker sama yang lain ya. Bubur ayam normal tanpa kuah-kuahan, buburnya 'mirasa' banget, dan semi-semi encer gitu, aaaaargh pokoknya enak banget. Must must must try buat pecinta bubur ayam! Highly recommended!

Buat yang lebih suka bubur ayam yang tidak encer alias lebih padet, bubur ayam Mang H. Oyo di jalan Sulanjana adalah pilihan yang lebih tepat. Saya juga lumayan demen makan di situ, biasanya saya minta tambahan kulit ayam goreng sebagai pelengkap biar lebih maknyus. Satu lagi referensi bubur ayam enak yang layak dicoba, bubur ayam Serbu Rame di Cisitu. Buat anak-anak kos Cisitu bubur ayam yang satu ini pasti tidak asing lagi lah ya. Bubur nya lebih mirip bubur ayam Antapani dibanding Mang Oyo, lebih encer soalnya.

Apalagi ya. Oh! Ada lagi bubur ayam yang enak! Bubur ayam di depan track lari Saparua. Itu juga enak. Di situ selain jual bubur ayam juga jual lontong kari dan nasi kuning, triple kill menu sarapan favorit orang Bandung. Laris sekali jualannya. Worth trying juga. :D


Baiklah sepertinya saya sudahi dulu deh sebelum makin kangen Bandung dan ngidam bubur ayam Bandung nan lezat. Sementara saya puas dulu saja makan bubur ayam Pak Salim di kantin kantor. Hidup Salim!